Isocrates: Biar Murid Nggak Cuma “Berani Ngomong”, Tapi Bisa Berargumen dengan Alasan
Diskusi Kelas Kok Jadi “Menang-Menangan”? Isocrates Mengajarkan: Bicara Itu Harus Punya Alasan dan Arah
Di kelas Indonesia, diskusi itu sering terlihat hidup: banyak yang angkat tangan, berani menyela, berani beda pendapat. Tapi masalah muncul saat kamu minta satu hal sederhana: “Buktinya apa?” atau “Alasannya dari mana?”. Tiba-tiba argumen berubah jadi opini mentah—atau jadi adu gaya bicara.
Kalau kamu pernah capek menengahi debat murid yang makin panas, ada tokoh yang bisa jadi “obat” budaya diskusi: Isocrates—bukan untuk membuat murid pintar berdebat, tapi untuk membuat mereka mampu berpikir lewat bahasa.
Siapa Isocrates?
Isocrates (436–338 SM) adalah orator, guru, dan penulis Athena. Menurut Britannica, setelah kehilangan kekayaannya di akhir Perang Peloponnesos, ia sempat menulis pidato untuk orang lain (logographer). Karena ia tidak percaya diri dan tidak punya suara yang kuat untuk tampil sebagai pembicara publik, ia kemudian fokus pada pendidikan selama puluhan tahun dan mendirikan sekolah yang berpengaruh di dunia Yunani.1
Inti ide Isocrates untuk guru: latihan bahasa itu latihan berpikir (dan latihan jadi warga)
Isocrates sering dipahami sebagai tokoh yang menempatkan pendidikan retorika bukan sekadar “cara ngomong”, tetapi sebagai pendidikan untuk menghadapi masalah nyata dalam hidup bersama: memilih kata yang tepat, menyusun alasan, mempertimbangkan dampak, dan menjaga karakter saat berbicara. Dalam kajian Cambridge, Isocrates digambarkan sebagai writer rather than performer—lebih menekankan praktik menulis dan pembentukan diri ketimbang pertunjukan retorika semata.2
Kalau diterjemahkan ke kelas hari ini: murid tidak cukup “berani presentasi”; mereka perlu dilatih agar argumennya rapi, relevan dengan konteks, dan bertanggung jawab.
Kenapa Isocrates keras mengkritik “ngajar cepat jadi jago ngomong”?
Dalam tulisan Against the Sophists, Isocrates mengkritik model guru yang menjanjikan hasil instan—seolah murid bisa jadi hebat hanya dengan menghafal teknik. Ia menekankan bahwa kemampuan berbicara/menulis yang baik butuh latihan, pembiasaan, dan penilaian terhadap situasi (bukan sekadar trik).3
![]() |
| Hieronymus Wolf (Public Domain) |
Ini relevan banget di sekolah: banyak murid mengira “yang penting pede”. Padahal, pede tanpa alasan sering cuma menghasilkan suara yang keras, bukan pikiran yang jelas.
Bagaimana Isocrates membangun “teori mengajarnya”?
Isocrates membentuk gagasannya dari pengalaman hidupnya sendiri: ia sempat bekerja menulis pidato untuk orang lain, lalu mendedikasikan diri pada pendidikan. Britannica menyebut ia beralih ke pendidikan karena keterbatasan sebagai pembicara publik dan kemudian melatih murid-muridnya untuk sukses di kehidupan publik (dengan biaya yang tidak murah).1
Selain itu, ia menjelaskan dan “membela” pendekatan pendidikannya dalam karya Antidosis—sebuah pembelaan bergaya pidato hukum yang sekaligus memuat gambaran tentang pekerjaannya sebagai pendidik dan apa yang ia anggap sebagai pendidikan yang baik.4
Praktik kelas SD–K12: “Isocrates version” yang bisa kamu pakai besok
1) Ubah diskusi jadi “argumen 3 lapis” (mudah, tapi kuat)
- Klaim: “Menurutku…”
- Alasan: “Karena…”
- Bukti/Contoh: “Contohnya…” atau “Datanya…”
Aturan kelas: pendapat tanpa “karena” dan “contoh” = belum boleh disimpulkan. Bukan ditolak—tapi diminta diperbaiki.
2) Latihan menulis pendek tapi rutin (bukan tugas panjang yang bikin kapok)
Isocrates dikenal sangat peduli pada kualitas tulisan. Britannica bahkan menyebut ia konon menghabiskan waktu lama untuk menyusun karya tertentu—ini menegaskan nilai revisi dan ketelitian.1
Versi kelasnya: 7 menit “tulis argumen mini” (5–7 kalimat) + 3 menit revisi setelah dapat umpan balik.
3) “Konteks itu raja”: latih murid menyesuaikan bahasa dengan situasi
Berikan satu topik, tapi tiga audiens:
- Menjelaskan ke teman sebaya
- Menjelaskan ke adik kelas
- Menjelaskan ke orang tua
Murid belajar bahwa cara bicara yang baik itu bukan yang paling keren—tapi yang paling pas.
4) Tutup diskusi dengan “ringkasan beradab”
- “Argumen paling kuat hari ini adalah…”
- “Bukti yang paling meyakinkan adalah…”
- “Hal yang masih perlu diuji lagi adalah…”
Ini membentuk budaya: menang bukan karena paling keras, tapi karena paling jelas.
![]() |
| Daderot (Public Domain) |
Kesalahan umum saat menerapkan “kelas diskusi”
- Diskusi tanpa standar bukti: akhirnya jadi lomba opini.
- Menilai dari keberanian saja: murid yang pede menang, yang teliti kalah—padahal tujuanmu justru melatih ketelitian berpikir.
- Debat dibuat jadi pertarungan: bukan latihan bernalar, tapi latihan menyerang.
- Umpan balik cuma “bagus/kurang”: ganti dengan feedback spesifik: klaimnya apa, alasannya apa, buktinya apa.
Fakta menarik yang nyambung dengan kelas hari ini
Isocrates bukan “guru retorika panggung” saja. Banyak tradisi membaca Isocrates sebagai pendidik yang membentuk murid lewat tulisan dan latihan jangka panjang—bukan lewat trik instan. Kajian Cambridge menekankan bagaimana Isocrates membangun citra diri sebagai pendidik dan mengaitkan latihan menulis/prosa dengan tujuan pendidikan dan kehidupan politik pada zamannya.2
Kalau kamu mengajar di era banjir informasi, ini relevan: murid perlu dilatih bukan hanya “berpendapat”, tapi menyusun pendapat yang bisa dipertanggungjawabkan.
Keberanian berbicara itu bagus—tapi yang membentuk kualitas belajar adalah keberanian memberi alasan dan bukti.
Referensi
-
Encyclopaedia Britannica. (n.d.). Isocrates.
https://www.britannica.com/biography/Isocrates ↩ ↩ ↩ -
(Open-access) Cambridge University Press. (2021). “Isocrates and His Work on Rhetoric and Philosophy” dalam Creating the Ancient Rhetorical Tradition (PDF).
https://www.cambridge.org/core/services/aop-cambridge-core/content/view/1D14706884ED7E27642DD9DB8647CF8B/9781108836562c3_62-91.pdf/isocrates_and_his_work_on_rhetoric_and_philosophy.pdf ↩ ↩ -
Isocrates. (n.d.). Against the Sophists (Trans. George Norlin; Perseus/Loeb). Perseus Catalog record.
https://catalog.perseus.org/catalog/urn:cts:greekLit:tlg0010.tlg008 ↩ -
Isocrates. (n.d.). Antidosis (Trans. George Norlin). The Internet Classics Archive (MIT Classics; via Perseus).
https://classics.mit.edu/Isocrates/isoc.15.html ↩


