Murid Buntu Lalu Menyerah? George Pólya: 4 Langkah Bikin Anak “Bisa Mikir Lagi”
Murid Mentok, Hapus Semua, Lalu Menyerah: “Aku Nggak Bisa.” Apa yang Harus Guru Suruh?
Kalau kamu ngajar matematika (atau sains, bahkan bahasa), kamu pasti pernah lihat momen ini: murid menatap soal lama, coret-coret sedikit, lalu menghapus semuanya. Diulang. Lalu berhenti total—menyerah bukan karena malas, tapi karena pikirannya seperti “buntu”.
Di titik buntu, yang murid butuhkan bukan jawaban, tapi langkah kecil untuk menghidupkan kembali cara berpikir. George Pólya—salah satu tokoh paling berpengaruh dalam pendidikan pemecahan masalah—menawarkan kebiasaan sederhana: ulang soalnya dengan kata sendiri, gambar situasinya, coba versi yang lebih mudah, lalu kembali dan cek. Ini bukan trik sekali pakai, tapi pola latihan yang membentuk mental problem solver.
Saat buntu: ceritakan ulang soalnya, gambar situasinya, coba kasus lebih mudah, lalu kembali dan cek lagi. Kebiasaan kecil ini membangun problem solving.
Catatan: Ini ringkasan praktis dari pendekatan heuristik Pólya dalam How to Solve It, bukan kutipan literal satu kalimat.
Siapa George Pólya?
![]() |
| George Pólya |
George Pólya (1887–1985) adalah matematikawan kelahiran Hungaria yang dikenal luas karena kontribusinya pada teori probabilitas, kombinatorika, dan terutama pendidikan pemecahan masalah. Nama Pólya sangat melekat pada buku klasiknya How to Solve It (1945), yang mempopulerkan “cara berpikir” ketika menghadapi soal—bukan hanya rumusnya.[1][2]
Inti teorinya: problem solving itu keterampilan, bukan bakat
Pólya melihat bahwa banyak murid gagal bukan karena tidak pintar, tetapi karena tidak punya kebiasaan bertindak saat buntu. Ketika buntu, murid butuh “protokol” sederhana untuk kembali bergerak.
Dalam How to Solve It, Pólya merangkum proses pemecahan masalah menjadi 4 tahap besar:[1]
- Pahami masalah (apa yang diketahui, apa yang ditanya).
- Buat rencana (pilih strategi yang masuk akal).
- Kerjakan rencana (langkah demi langkah).
- Lihat kembali (cek hasil, cek alasan, cari cara lain).
Kalau kamu perhatikan, “ulang dengan kata sendiri” dan “gambar” itu masuk tahap memahami. “Coba kasus mudah” itu bagian dari rencana. “Kembali dan cek” itu tahap melihat kembali. Semua yang kamu suruh murid lakukan saat buntu sebenarnya sedang melatih empat tahap ini.
Kenapa Pólya bisa sampai menyusun langkah-langkah ini?
Pólya bukan membuat “metode instan”. Ia merumuskannya dari pengalaman panjang mengajar dan membimbing murid menyelesaikan masalah matematika. Ia mengamati: murid yang sukses biasanya melakukan hal yang sama—menafsir ulang soal, membuat representasi (gambar/tabel), mencoba contoh sederhana, lalu mengecek kembali. Pólya lalu menuliskannya sebagai heuristik: strategi umum yang membantu berpikir, meski tidak menjamin selalu benar.[1][2]
Apa yang guru ucapkan saat anak buntu? (Kalimat pendek yang menyelamatkan)
Ini contoh “skrip” yang sesuai dengan semangat Pólya—kamu bisa pakai di SD sampai SMA (tinggal menyesuaikan bahasa):
- Ulang dengan kata sendiri: “Coba ceritakan soal ini pakai bahasamu. Yang diminta apa?”
- Gambar situasinya: “Bisa digambar? Biar otakmu lihat bentuknya.”
- Coba kasus lebih mudah: “Kalau angkanya kita kecilin dulu, apa yang terjadi?”
- Kembali dan cek: “Kalau kamu sudah dapat langkah, cek: masuk akal nggak? cocok dengan yang ditanya?”
Yang penting: kamu tidak langsung memberi solusi, tapi memberi arah gerak. Murid belajar bahwa buntu bukan akhir—buntu itu sinyal untuk ganti strategi.
Cara menerapkan di kelas: bikin “kebiasaan Pólya” jadi rutinitas
1) Tempel 4 tahap Pólya sebagai bahasa kelas (bukan poster hiasan)
Setiap kali murid bertanya, “Bu, gimana?”, arahkan ke tahapnya:
- “Kamu sudah pahami yang ditanya?”
- “Rencanamu apa?”
- “Kerjakan pelan-pelan.”
- “Sekarang cek.”
2) Latih “representasi” sebagai langkah wajib
Minimal salah satu: gambar, tabel, garis bilangan, diagram, atau cerita ulang. Banyak murid buntu karena mereka lompat ke simbol tanpa membangun makna.
3) Wajibkan “versi mudah” sebelum panik
Ajarkan satu kebiasaan sakti: kalau mentok, cari versi lebih mudah dulu. Contoh:
- Angka kecil dulu.
- Kasus khusus dulu (misal segitiga siku-siku sebelum segitiga sembarang).
- Contoh konkret dulu sebelum umum.
4) Penilaian kecil untuk “lihat kembali”
Di akhir, jangan cuma nilai jawaban. Beri 1 poin untuk cek:
- “Kenapa ini masuk akal?”
- “Cara lain ada?”
- “Kalau soal diubah sedikit, jawabannya masih benar?”
Bagian ini sering diabaikan, padahal justru membentuk ketahanan berpikir.
Kesalahan umum menerapkan Pólya (yang bikin murid tetap gagal paham)
- 4 langkah jadi checklist kosong. Murid menulis “pahami-rencana-kerjakan-cek” tapi tetap tidak melakukan isinya.
- Guru terlalu cepat “menyelamatkan”. Begitu murid buntu, guru langsung memberi jalan. Murid tidak pernah belajar ganti strategi.
- Hanya fokus strategi, lupa makna. Pólya bukan “trik”. Intinya membangun kebiasaan berpikir yang masuk akal.
- Menuntut cepat. Problem solving butuh ruang “struggle” yang terarah. Jika kelas menghukum proses lambat, murid makin takut mencoba.
Fakta menarik yang nyambung: Pólya mempengaruhi cara lesson plan matematika modern
Banyak format pembelajaran matematika modern—yang menekankan pemahaman, strategi, dan refleksi—berutang pada cara berpikir Pólya yang dipopulerkan lewat How to Solve It. Buku ini bukan hanya dibaca matematikawan, tapi juga guru, pelatih olimpiade, dan pendidik di berbagai negara selama puluhan tahun.[1][2]
Saat murid buntu, jangan beri jawaban—beri langkah kecil: ceritakan ulang, gambar, coba yang lebih mudah, lalu cek kembali.
Catatan Kaki / Referensi
- Pólya, G. (1945). How to Solve It: A New Aspect of Mathematical Method. Princeton University Press. (sumber utama 4 tahap problem solving dan daftar heuristik).
-
MacTutor History of Mathematics (University of St Andrews). “George Pólya.” (biografi ringkas dan kontribusi; konteks karya dan pengaruh).
https://mathshistory.st-andrews.ac.uk/Biographies/Polya/ - Schoenfeld, A. H. (1985). “Mathematical Problem Solving.” Academic Press. (membahas problem solving dan kontrol/metakognisi; sering dipakai untuk memperkuat implementasi Pólya di kelas).
