Aristoteles: 4 Pertanyaan “Mengapa” yang Bikin Murid Paham
Rumus, Materi, dan PR Terasa “Ngawang”? Pakai 4 Pertanyaan “Mengapa” ala Aristoteles
Di kelas, ada momen yang bikin guru “kalah”: ketika murid menatap kosong lalu bertanya, “Bu, ini buat apa sih?” atau “Pak, kenapa rumusnya begitu?”. Kita sudah jelaskan, sudah kasih contoh, tapi besoknya banyak yang kembali lupa. Bukan karena mereka malas—seringnya karena mereka belum punya alasan yang utuh untuk memegang konsep itu.
Aristoteles menawarkan cara berpikir yang terasa sederhana, tapi efeknya besar: kalau murid ingin paham, jangan berhenti di “apa”. Bantu mereka menuntaskan “mengapa” dari beberapa sisi—sampai konsep punya pijakan yang jelas.
Siapa Aristoteles, dan kenapa ia relevan untuk kelas hari ini?
Aristoteles (384–322 SM) adalah filsuf Yunani yang juga dikenal sebagai ilmuwan—menulis dan mengajar lintas bidang: logika, etika, politik, sampai biologi/zoologi. Ia pernah belajar lama di Akademi Plato, lalu mendirikan sekolahnya sendiri di Athena, Lyceum.1 Yang penting untuk guru: Aristoteles sangat menekankan pengetahuan yang bisa menjelaskan “sebab”, bukan sekadar mengulang informasi.
Empat “kunci mengapa” yang membuat konsep tidak mudah lepas
Dalam tradisi Aristotelian, memahami sesuatu berarti mampu menjawab “mengapa” secara lengkap. Karena itu ia mengembangkan kerangka yang terkenal sebagai doktrin empat sebab (four causes).2 Ini bukan “sebab” dalam arti menyalahkan, tapi empat jenis penjelasan yang membuat sesuatu menjadi masuk akal.
- Sebab bahan (material cause): terbuat dari apa?
- Sebab bentuk (formal cause): “bentuk/struktur/aturan” apa yang membuatnya jadi seperti itu?
- Sebab penggerak (efficient cause): siapa/apa yang membuatnya terjadi?
- Sebab tujuan (final cause): untuk apa? apa fungsi/arahnya?
Aristoteles merangkum bahwa “sebab itu empat” dan mencakup materi, bentuk, penggerak, dan ‘demi apa’.3 Kerangka ini bisa kamu pakai bukan cuma di sains, tapi juga matematika, bahasa, proyek, sampai manajemen kelas.
Dari mana Aristoteles “mendapat” cara berpikir ini?
Kerangka empat sebab lahir dari kebiasaan Aristoteles membaca dunia dengan observasi + penjelasan. Ia melihat manusia memang “secara alami ingin tahu”—bahkan membuka Metaphysics dengan kalimat terkenal: “All men by nature desire to know.”4 Tapi ia juga menegaskan: orang sering berhenti di “tahu itu begini”, belum sampai “tahu sebabnya”. Di titik inilah “mengapa” menjadi pusat belajar.
Dalam penjelasan akademik modern, Stanford Encyclopedia of Philosophy menjelaskan bahwa seluruh “ilmu” versi Aristoteles adalah penyelidikan sebab; dan penekanan pada sebab inilah yang menjelaskan kenapa ia menyusun doktrin empat sebab.2 Jadi, ini bukan trik retorika—ini fondasi cara belajar: paham = bisa menjelaskan dengan alasan yang tepat.
![]() |
| Public Domain, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=87699243 |
Cara menerapkan 4 sebab di kelas SD–SMA (praktis dan cepat)
Anggap ini sebagai “alat bantu berpikir” yang kamu tempel di papan, atau jadi format diskusi 3–5 menit.
1) Teknik “4 Pertanyaan Mengapa” (bisa untuk semua mapel)
- Bahan: “Kita pakai apa? data/benda/unsurnya apa?”
- Bentuk: “Aturannya/strukturnya apa? definisinya apa?”
- Penggerak: “Apa yang membuat perubahan itu terjadi? langkah/prosesnya apa?”
- Tujuan: “Kalau sudah paham ini, bisa dipakai untuk apa?”
2) Contoh konkret (biar tidak terasa filsafat)
- Matematika (rumus luas persegi panjang)
Bahan = satuan & kotak/grid; Bentuk = panjang × lebar; Penggerak = “menghitung baris-kolom”; Tujuan = menghitung kebutuhan ubin, kertas kado, denah. - IPA (mengapa es mencair)
Bahan = air (H2O); Bentuk = susunan partikel padat→cair; Penggerak = panas/energi; Tujuan = memahami perubahan wujud, cuaca, pendinginan. - Bahasa (mengapa paragraf butuh kalimat utama)
Bahan = ide & kalimat; Bentuk = struktur paragraf; Penggerak = proses menulis & revisi; Tujuan = tulisan jelas, pembaca paham cepat.
3) Bonus untuk disiplin & karakter: “kebiasaan membentuk kemampuan”
Aristoteles juga menekankan bahwa banyak kemampuan manusia dibentuk lewat latihan dan kebiasaan—“kita belajar dengan melakukannya” (misalnya jadi “pembangun” dengan membangun).5 Ini relevan untuk rutinitas kelas: konsistensi latihan pendek, umpan balik cepat, dan target kecil yang berulang lebih “membentuk” daripada ceramah panjang.
Kesalahan umum saat mencoba menerapkan (biar tidak backfire)
- Salah 1: Mengira “tujuan” = sekadar “tujuan pembelajaran” di RPP.
Final cause versi Aristoteles itu “untuk apa dalam kehidupan/ fungsi nyata”, bukan hanya “indikator tercapai”. - Salah 2: Menjadikan 4 sebab sebagai hafalan baru.
Jangan minta murid menghafal istilah “material-formal-efisien-final”. Pakai bahasa sehari-hari: bahan, bentuk/aturan, proses, tujuan. - Salah 3: Memaksa semua materi harus pakai keempatnya secara panjang.
Untuk skill sederhana, cukup 2–3 sebab. Kuncinya adalah memberi “alasan yang cukup” agar konsep menempel. - Salah 4: Mengganti penjelasan dengan ceramah “filosofis”.
Kerangka ini harus membuat pelajaran lebih konkret, bukan lebih abstrak.
Fakta menarik yang nyambung dengan teorinya
Aristoteles percaya manusia memang menikmati “mengetahui” lewat indera—terutama penglihatan—dan dari pengalaman berulang, manusia bisa naik ke “pengetahuan yang bisa diajarkan” karena memahami sebabnya.4 Buat guru, ini pengingat penting: mulai dari yang bisa dilihat/diuji, lalu naik ke konsep dan penjelasan.
Kalau murid mulai bertanya “mengapa”, bantu mereka melihat sebabnya dari beberapa sisi—maka konsep berubah dari hafalan jadi pemahaman.
Referensi
- Encyclopaedia Britannica. “Aristotle.” (diakses Jan 2026). https://www.britannica.com/biography/Aristotle ↩
- Falcon, Andrea. “Aristotle on Causality.” Stanford Encyclopedia of Philosophy (Summer 2020 Edition). https://plato.stanford.edu/archives/sum2020/entries/aristotle-causality/ ↩
- Aristotle. Physics, Book II (terj. R. P. Hardie & R. K. Gaye), Internet Classics Archive (MIT). Bagian tentang sebab-sebab (empat sebab). https://classics.mit.edu/Aristotle/physics.2.ii.html ↩
- Aristotle. Metaphysics, Book I, Part 1 (terj. W. D. Ross), Internet Classics Archive (MIT). Pembuka “All men by nature desire to know …”. https://classics.mit.edu/Aristotle/metaphysics.1.i.html ↩
- Aristotle. Nicomachean Ethics, Book II (terj. W. D. Ross), Internet Classics Archive (MIT). Bagian tentang kebajikan/kemampuan yang dibentuk oleh kebiasaan dan latihan. https://classics.mit.edu/Aristotle/nicomachaen.2.ii.html ↩

