OeiXK0lB2ryhFzOl0xPYwTuYcIOZo1f1dSrnSz50
Bookmark

Thales of Miletus: Cara Mengajar Anak Bertanya dan Menguji lewat Observasi

Anak cepat percaya “katanya” dan sulit berpikir ilmiah? Thales: Membangun kebiasaan observasi, menanyakan sebab, menguji dugaan, dan menerapkannya
 Anak Mudah Percaya “Katanya”… Thales Mengajarkan Cara Berpikir yang Lebih Aman: Uji dengan Observasi

Di kelas, kamu mungkin sering dengar murid menjawab dengan percaya diri: “Soalnya memang begitu.” “Karena kata buku.” “Karena kata teman.” Masalahnya, saat mereka menghadapi situasi baru, jawabannya cepat runtuh. Bukan karena anak tidak mampu—seringnya karena mereka belum punya kebiasaan paling dasar dalam belajar: mengamati, bertanya, lalu menguji.

Nah, kalau kamu sedang membangun budaya berpikir ilmiah di kelas (IPA, matematika, proyek, bahkan diskusi), ada satu tokoh “awal banget” yang bisa jadi pijakan: Thales of Miletus.

Siapa Thales of Miletus?

Thales of Miletus

Thales (kira-kira 624–546 SM) berasal dari Miletus (Ionia, wilayah yang kini bagian dari Turki). Ia sering disebut sebagai salah satu dari “Seven Wise Men” dan dikenal dalam sejarah pemikiran sebagai tokoh awal yang mencoba menjelaskan dunia dengan sebab alamiah, bukan sekadar cerita mitos.1 Karena tulisan Thales tidak tersisa, banyak informasi tentangnya datang dari sumber-sumber yang ditulis jauh setelah zamannya, jadi beberapa kisahnya perlu dibaca dengan hati-hati.1

Inti idenya untuk Guru: Jangan berhenti di “Apa”, dorong sampai “Mengapa”

Thales sering dikaitkan dengan pertanyaan besar: “Dari apa dunia tersusun?” Dalam ringkasan Aristoteles, Thales disebut menganggap air sebagai “prinsip” (asal/unsur dasar) dan mengaitkannya dengan pengamatan bahwa banyak hal terkait dengan kelembapan dan kehidupan.2

Untuk kelas, poin paling penting bukan “jawaban airnya”, melainkan cara berpikirnya:

  • Mulai dari fenomena yang bisa diamati
  • Tanyakan sebab alamiah (bukan “katanya”)
  • Buat dugaan yang bisa diuji
  • Uji dengan data sederhana

Ini fondasi budaya ilmiah: anak belajar bahwa pengetahuan bukan sekadar dihafal, tapi dibangun dari pengamatan dan alasan.

Bagaimana Thales “sampai” pada cara berpikir itu?

Karena tidak ada tulisan Thales yang tersisa, “proses” berpikirnya kita pahami dari laporan penulis-penulis setelahnya. Internet Encyclopedia of Philosophy menjelaskan bahwa Aristoteles menjadi sumber utama untuk menilai Thales sebagai tokoh awal yang menyelidiki prinsip-prinsip dasar alam dan memulai tradisi “natural philosophy.”3

Artinya: Thales dikenang bukan sebagai “guru yang bikin metode pelajaran”, tapi sebagai orang yang mendorong manusia keluar dari pola: percaya begitu saja → menuju pola: jelaskan dengan sebab alamiah.

Dua kisah klasik (yang sangat “kelas banget”)—dan apa pelajarannya

1) Kisah “mengukur tinggi piramida dari bayangan”

Diogenes Laertius (mengutip Hieronymus) mencatat cerita bahwa Thales mengukur tinggi piramida lewat panjang bayangannya pada waktu tertentu (saat bayangan manusia sama dengan tinggi tubuhnya).4 Kisah ini populer karena menggambarkan cara berpikir yang sederhana tapi jenius: pakai perbandingan dan pengamatan.

Apa pelajaran untuk guru? Anak SD bisa kamu ajak melakukan versi mini-nya:

  • Siapkan tongkat (tinggi diketahui), ukur bayangan tongkat
  • Ukur bayangan tiang bendera/pohon
  • Gunakan perbandingan untuk menaksir tinggi

Ini membuat matematika terasa “hidup” karena muncul dari pengamatan, bukan sekadar rumus.

2) Kisah “memprediksi gerhana”

Herodotus menulis kisah terkenal bahwa Thales memperkirakan peristiwa gerhana yang membuat perang antara Lydians dan Medes berhenti karena “siang menjadi malam.”5 Banyak sejarawan modern mendiskusikan seberapa akurat dan bagaimana kemungkinan prediksinya; tapi untuk kelas, pelajaran yang bisa diambil adalah gagasan besar: langit pun bisa dipahami lewat pola, bukan cuma dianggap “tanda mistis”.

Cara menerapkan “cara berpikir Thales” di kelas SD–K12

1) Ritual 5 menit: Observasi → Pertanyaan → Dugaan

  • Observasi: tampilkan fenomena kecil (es mencair, bayangan berubah, kertas basah mengerut)
  • Pertanyaan: “Apa yang kamu lihat?” “Apa yang berubah?” “Kira-kira kenapa?”
  • Dugaan: minta anak menyatakan dugaan dengan format: “Kalau…, maka…”

2) Jadikan “bukti” sebagai kebiasaan bahasa

Biasakan dua kalimat kunci:

  • “Saya percaya ini karena saya mengamati…”
  • “Buktinya adalah…”

3) Tugas kecil yang terasa nyata

  • Matematika: “Ukur tinggi benda besar dengan bayangan”
  • IPA: “Uji mana yang paling cepat menguap: air di piring lebar vs gelas”
  • Bahasa: “Bedakan fakta observasi vs opini”

Kesalahan umum saat mencoba “inquiry” (biar tidak jadi chaos)

  • Inquiry tanpa arah: anak disuruh “menemukan sendiri” tanpa pertanyaan pandu → akhirnya ribut dan bingung.
  • Semua dugaan dianggap benar: dugaan harus diuji; yang dihargai adalah proses dan bukti, bukan sekadar percaya diri.
  • Eksperimen jadi demo guru: kalau anak hanya menonton, mereka tidak belajar membangun alasan. Libatkan mereka mengukur, mencatat, membandingkan.
  • Langsung lompat ke istilah: mulai dari observasi dulu, baru istilah. Istilah tanpa pengalaman jadi “bayangan baru”.

Fakta menarik yang nyambung dengan kelas hari ini

Britannica menekankan bahwa tidak ada sumber kontemporer dan tidak ada tulisan Thales yang bertahan, sehingga prestasinya sulit dipastikan secara detail.1 Tapi justru ini pelajaran ilmiah yang indah untuk murid: kalau buktinya terbatas, kita bicara dengan hati-hati. Ini latihan literasi kritis: memisahkan “klaim”, “sumber”, dan “seberapa kuat buktinya”.

Jangan cepat puas dengan “katanya”—biasakan anak mengamati, bertanya, lalu menguji dengan bukti sederhana.

Referensi

  1. Encyclopaedia Britannica. (n.d.). Thales of Miletus.
    https://www.britannica.com/biography/Thales-of-Miletus  
  2. Aristotle. (n.d.). Metaphysics, Book I, Part 3 (Trans. W. D. Ross). The Internet Classics Archive (MIT).
    https://classics.mit.edu/Aristotle/metaphysics.1.i.html  
  3. Internet Encyclopedia of Philosophy. (n.d.). Thales of Miletus.
    https://iep.utm.edu/thales/  
  4. Diogenes Laertius. (1925). Lives of Eminent Philosophers, Book I: Thales (Loeb Classical Library).
    https://www.loebclassics.com/view/diogenes_laertius-lives_eminent_philosophers_book_i_chapter_1_thales/1925/pb_LCL184.29.xml  
  5. Herodotus. (n.d.). Histories, Book 1.74 (Trans. A. D. Godley). Lexundria.
    https://lexundria.com/hdt/1.74.1/mcly  
  6. Mathematical Association of America. (n.d.). Some Original Sources for Modern Tales of Thales: The Tale of the Pyramids.
    https://old.maa.org/press/periodicals/convergence/some-original-sources-for-modern-tales-of-thales-the-tale-of-the-pyramids
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar
Silahkan berkomentar ...