Metode Socratic: Cara Mengajar Anak Menjawab dengan Alasan, Bukan Menebak
Murid Cepat Jawab, Tapi Kosong Saat Ditanya “Kenapa”? Socrates Punya Obatnya: Pertanyaan yang Menguji
Kamu bertanya di kelas. Anak cepat angkat tangan. Jawabannya terdengar benar. Tapi ketika kamu lanjutkan dengan satu pertanyaan sederhana—“Kenapa kamu yakin begitu?”—tiba-tiba suasana berubah. Ada yang diam, ada yang menebak, ada yang menunggu kamu memberi petunjuk.
Ini bukan semata soal “anak kurang fokus”. Sering kali anak belum terbiasa membangun alasan. Mereka punya jawaban, tapi tidak punya jalur pikir yang bisa menjelaskan “mengapa”.
Siapa Socrates?
Socrates (c. 470–399 SM) adalah filsuf dari Athena yang sangat berpengaruh dalam tradisi pemikiran Barat. Ia tidak meninggalkan tulisan; pemikirannya terutama dikenal melalui karya murid-muridnya, terutama Plato (juga Xenophon dan penulis lain).1
Inti ajarannya yang relevan untuk guru: mengejar alasan, bukan sekadar jawaban
Socrates dikenal dengan cara berdialog yang menguji: ia meminta definisi, meminta contoh, mencari pengecualian, lalu mengecek apakah jawaban itu konsisten. Tradisi ini sering disebut Socratic elenchus (pengujian/refutasi).2
Tujuannya bukan mempermalukan murid. Tujuannya membuat murid bisa berkata: “Ini jawabanku… dan ini alasannya.” Ketika alasan kuat, jawaban jadi tahan uji—tidak mudah runtuh saat soalnya berubah.
Kalimat paling terkenal Socrates (dan kenapa ini penting di kelas)
Dalam pembelaannya di pengadilan (Apology), Socrates menyampaikan kalimat yang sangat sering dikutip:
“Ὁ δὲ ἀνεξέταστος βίος οὐ βιωτὸς ἀνθρώπῳ.”3
Artinya (bebas): “Hidup yang tidak diuji/diperiksa tidak layak dijalani.” Dalam konteks kelas, ini seperti mengingatkan kita: jawaban yang tidak diuji dengan “kenapa” mudah jadi hafalan rapuh.
Dari mana “metode Socrates” kita ketahui?
Karena Socrates tidak menulis buku, cara dialognya kita kenal lewat dialog-dialog Plato. Salah satu yang sering dijadikan contoh pendidikan adalah dialog Meno, ketika Socrates menuntun seorang anak menyelesaikan masalah geometri dengan pertanyaan bertahap—bukan dengan ceramah panjang.4
![]() |
| Public Domain, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=175162375 |
Untuk guru, pesan besarnya sederhana: pertanyaan yang tepat bisa menjadi bentuk guided discovery—anak bergerak selangkah demi selangkah, tapi tetap merasa “aku yang menemukan”.
Teknik “Socratic questioning” yang bisa langsung dipakai di kelas
Kalau kamu ingin memulai tanpa membuat kelas tegang, gunakan urutan pertanyaan yang rapi dan ramah:
- 1) Jelaskan dulu jawabanmu: “Menurutmu jawabannya apa?”
- 2) Minta alasan satu kalimat: “Kamu yakin karena apa?” (wajib ada kata “karena”).
- 3) Uji dengan contoh/pengecualian: “Kalau situasinya begini, masih berlaku?” atau “Ada contoh yang bikin jawabanmu tidak cocok?”
Lalu, bantu anak merapikan jawabannya dengan dua kebiasaan sederhana:
- Definisi pakai bahasa anak: “Kalau kamu harus jelasin ke adik kelas, kamu bilang apa?”
- Rangkuman alasan di akhir: “Jadi kita yakin karena (alasan 1) dan (alasan 2).”
Contoh singkat (biar kebayang)
Misal dalam Matematika SD: anak bilang, “1/2 lebih besar dari 1/3.” Kamu lanjut:
- “Kenapa kamu yakin?”
- “Kalau pizzanya sama besar, bagian mana yang lebih besar?”
- “Bisa kamu gambar dua lingkaran dan tunjukkan?”
Yang kamu latih bukan hanya “jawaban benar”, tapi kebiasaan memberi alasan yang bisa ditunjukkan.
Kesalahan umum yang bikin metode ini jadi menakutkan
- Dipakai untuk menjatuhkan: pertanyaan jadi senjata untuk mempermalukan. Padahal elenchus menguji ide, bukan menyerang orang.
- Terlalu cepat, tanpa waktu berpikir: akhirnya yang aktif hanya anak tertentu. Beri jeda 3–5 detik (atau “think–pair–share”).
- Langsung abstrak: untuk SD, mulai dari contoh konkret dulu, baru naik ke konsep.
- Tidak ada penutup: murid dibuat bingung, tapi tidak dibantu merangkum pelajaran. Selalu tutup dengan “apa yang kita yakini dan kenapa”.
Fakta menarik yang nyambung ke cara mengajar
Di beberapa dialog, Socrates menggambarkan dirinya seperti “bidan” (maieutic): ia membantu orang melahirkan pemikiran mereka sendiri, bukan menuangkan isi kepalanya ke orang lain.5 Ini nyambung ke praktik mengajar hari ini: pertanyaan yang tepat membuat murid membangun pemahamannya sendiri—dan itu biasanya lebih tahan lama.
Jangan buru-buru memberi jawaban—bantu anak membangun alasan sampai jawabannya tahan uji.
Referensi
-
Encyclopaedia Britannica. (n.d.). Socrates.
https://www.britannica.com/biography/Socrates ↩ -
Routledge Encyclopedia of Philosophy. (n.d.). Socratic elenchus, or refutation.
https://www.rep.routledge.com/articles/biographical/socrates-469-399-bc/v-1/sections/socratic-elenchus-or-refutation ↩ -
Plato. (n.d.). Apology (Greek text; Loeb Classical Library), 38a.
https://www.loebclassics.com/view/plato_philosopher-apology/2017/pb_LCL036.181.xml ↩ -
Plato. (n.d.). Meno (Trans. Benjamin Jowett). The Internet Classics Archive (MIT).
https://classics.mit.edu/Plato/meno.html ↩ -
Internet Encyclopedia of Philosophy. (n.d.). Socrates (bagian maieutic; rujukan Theaetetus 149a–151d).
https://iep.utm.edu/socrates/ ↩

.jpg)