Pesan Rousseau untuk Guru: Menyalakan Rasa Ingin Tahu lewat Pengalaman
Anak SD Hafal Tapi “Nggak Penasaran”? Rousseau Bilang: Mulai dari Pengalaman, Bukan Ceramah
Anak bisa mengulang jawaban, tapi tidak punya rasa ingin tahu. Begitu tugas selesai, selesai juga pikirannya. Di kelas yang padat target, kita sering “menang” menyelesaikan materi, tapi “kalah” menyalakan rasa ingin tahu.
Rousseau memberi sudut pandang tajam: banyak anak kehilangan energi belajar karena pembelajaran terlalu cepat memaksa kata-kata dan aturan—sebelum anak punya pengalaman yang membuat aturan itu masuk akal.
Siapa Jean-Jacques Rousseau?
![]() |
| Jean-Jacques Rousseau |
Jean-Jacques Rousseau (1712–1778) adalah filsuf dan penulis kelahiran Geneva yang sangat berpengaruh. Dalam pendidikan, ia terkenal lewat karya Émile; ou, de l’éducation (1762), yang membahas pendidikan dengan gaya gabungan cerita dan esai didaktik.12
Inti gagasannya: “jangan buru-buru memindahkan kata”
Rousseau menekankan bahwa anak belajar paling kuat ketika ia menemukan makna lewat pengalaman. Guru bukan pusat panggung, melainkan perancang situasi: menyiapkan pengalaman, memancing pertanyaan, dan membiarkan anak merasakan konsekuensi wajar dari pilihannya (dengan aman dan terarah).
Dalam kerangka Rousseau, tujuan awal bukan memenuhi kepala dengan banyak informasi, tetapi menjaga agar kemampuan alami anak—rasa ingin tahu, pengamatan, dan kemauan mencoba—tetap hidup.2
Bagaimana gagasan ini lahir?
Émile ditulis sebagai kritik terhadap kebiasaan pendidikan zamannya yang dianggap terlalu formal, terlalu cepat menuntut, dan kurang menghargai tahap perkembangan anak. Karya ini sangat kontroversial pada masanya dan menimbulkan “keributan” intelektual—menandakan betapa menantangnya idenya terhadap pendidikan tradisional saat itu.2
Versi ringkasan/terjemahan karya Émile juga tersedia luas (misalnya Project Gutenberg) untuk melihat langsung gaya dan gagasan pokoknya.3
Cara menerapkan di kelas
- Mulai dari fenomena kecil: “Kenapa es mencair?” “Kenapa bayangan berubah?” “Kenapa kata ini beda makna?”
- Ajarkan lewat pertanyaan bertahap: “Apa yang kamu lihat?” → “Kenapa bisa begitu?” → “Coba buktikan.”
- Gunakan konsekuensi wajar (bukan ancaman): misalnya, kerja kelompok yang kacau diberi kesempatan merancang ulang aturan kelompok—bukan langsung “dimarahi lama”.
- Berikan ruang pilihan yang aman: pilih alat/strategi, pilih urutan tugas, pilih topik contoh—agar rasa kendali anak tumbuh.
Kesalahan umum saat “mengikuti Rousseau”
- Disalahartikan jadi permisif: “biarkan saja” tanpa desain pengalaman dan batas yang jelas.
- Terlalu lama di eksplorasi tanpa momen merapikan konsep (anak senang, tapi konsep kabur).
- Mengabaikan kebutuhan literasi dasar: pengalaman penting, tapi keterampilan dasar tetap butuh latihan terstruktur.
Fakta menarik yang relevan
Émile ditulis bukan sebagai “modul langkah demi langkah”, melainkan sebagai karya yang menggabungkan cerita dan esai untuk menyampaikan filosofi pendidikan—itulah sebabnya buku ini sering terasa seperti narasi, bukan buku pedoman biasa.2
Kalau ingin anak berpikir, jangan mulai dari jawaban—mulailah dari pengalaman yang membuat anak bertanya.
Referensi
-
Encyclopaedia Britannica. (n.d.). Jean-Jacques Rousseau.
https://www.britannica.com/biography/Jean-Jacques-Rousseau ↩ -
Encyclopaedia Britannica. (n.d.). Émile; or, On Education.
https://www.britannica.com/topic/Emile-or-On-Education ↩ -
Rousseau, J.-J. (2009). Émile; or, Concerning Education (Extracts) (E. Worthington, Trans.). Project Gutenberg.
https://www.gutenberg.org/files/30433/30433-h/30433-h.htm ↩

