René Descartes: 4 Aturan Metode untuk Anak yang Sering Menyerah
Anak Cepat Menyerah Saat Soal Panjang? Descartes Bilang: Bukan Lebih Pintar—Tapi Lebih Metodis
Begitu soal kelihatan panjang, anak langsung berkata: “Aku nggak bisa.” Padahal kalau dipecah, sebenarnya langkahnya sederhana. Yang bikin mereka berhenti bukan konsepnya saja—tapi tidak punya cara berpikir yang rapi.
René Descartes terkenal bukan hanya karena filsafatnya, tapi karena dorongan kuat untuk berpikir secara metodis: pelan, jelas, dan bertahap.
Siapa René Descartes?
![]() |
| René Descartes |
René Descartes (1596–1650) adalah filsuf dan matematikawan Prancis yang sering disebut sebagai salah satu pendiri filsafat modern. Ia terkenal dengan gagasan “methodical doubt” dan pendekatan rasional untuk membangun pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan.1
Inti teorinya: 4 aturan metode yang bisa dipakai anak sekolah
Britannica merangkum inti teori metode Descartes sebagai 4 aturan:
- Terima hanya yang jelas: jangan menganggap benar sesuatu yang belum jelas dan “self-evident”.
- Pecah masalah: bagi soal menjadi bagian-bagian paling sederhana.
- Urut dari mudah ke sulit: selesaikan dari yang paling sederhana menuju yang lebih kompleks.
- Cek sampai lengkap: buat peninjauan/daftar ulang agar tidak ada langkah yang terlewat.
Ringkasan 4 aturan ini dibahas Britannica saat membahas karya Descartes tentang metode.2
Bagaimana Descartes menyusun gagasan “metode” ini?
Descartes menulis Discourse on the Method (1637) sebagai paparan bagaimana ia berusaha mencari cara berpikir yang lebih aman dari kesalahan dan ilusi. Teksnya tersedia luas dan sering dipakai untuk memahami kerangka berpikir Descartes secara langsung.3
![]() |
| By Unknown author - This file comes from Gallica Digital Library and is available under the digital ID btv1b86069594/f5, Public Domain, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=91567222 |
Secara sederhana: ia ingin membangun pengetahuan seperti membangun rumah—fondasi kuat dulu, langkah jelas, lalu naik tingkat.
Bagaimana menerapkannya di kelas
- Jadikan “pecah masalah” sebagai kebiasaan: sebelum hitung, anak wajib menulis: diketahui–ditanya–langkah 1–langkah 2.
- Wajibkan “kalimat karena”: setiap langkah harus bisa dijawab: “Karena apa?” (melatih alasan, bukan tebak hasil).
- Latih urutan: ajarkan anak menata langkah seperti resep: yang kecil dulu, baru gabungan.
- Penutup selalu “cek ulang”: minta anak mengecek satuan, logika, dan kewajaran jawaban (apakah masuk akal?).
Kesalahan umum saat menerapkan “metode”
- Jadi perfeksionis sampai takut salah: metode bukan untuk membuat anak takut mencoba, tapi supaya mencoba dengan rapi.
- Checklist tanpa pemahaman: anak menulis langkah-langkah tapi tidak tahu maknanya; guru perlu contoh “cara berpikir keras” (think aloud).
- Menolak intuisi mentah-mentah: intuisi tetap boleh, tapi harus diuji dengan langkah dan alasan.
Fakta menarik yang nyambung
Britannica menyoroti Descartes sebagai tokoh besar yang meninggalkan skolastisisme lama dan mendorong pendekatan baru yang lebih rasional—ini sebabnya ia sering disebut sebagai pendiri filsafat modern.1 Dalam kelas, warisan itu terasa saat kita melatih anak: “jangan asal percaya—buktikan dengan langkah.”
Anak tidak selalu butuh rumus baru—mereka butuh cara berpikir yang lebih rapi.
Referensi
-
Encyclopaedia Britannica. (n.d.). René Descartes (biografi).
https://www.britannica.com/biography/Rene-Descartes ↩ -
Encyclopaedia Britannica. (n.d.). Rules for the Direction of the Mind (ringkasan 4 aturan metode).
https://www.britannica.com/topic/Rules-for-the-Direction-of-the-Mind ↩ -
Descartes, R. (1637/2008). A Discourse on Method (Project Gutenberg).
https://www.gutenberg.org/files/59/59-h/59-h.htm ↩

