Operant Conditioning Skinner: Reinforcement untuk Manajemen Kelas SD
Perilaku Belajar Itu Dibentuk, Bukan Dinasehati: Operant Conditioning ala Skinner
Kamu sudah menasihati: “Ayo fokus, jangan ganggu teman.” Anak mengangguk. Lima menit kemudian, pola yang sama terulang. Guru sering lelah karena merasa harus “mengulang moral” setiap hari.
B. F. Skinner menawarkan kacamata yang lebih praktis: perilaku akan sering muncul jika setelahnya ada konsekuensi yang menguatkan. Jadi kuncinya bukan panjangnya nasihat—melainkan desain konsekuensi di kelas.
Siapa B. F. Skinner?
![]() |
| Burrhus Frederic Skinner |
Burrhus Frederic Skinner (1904–1990) adalah psikolog behavioris yang mengembangkan teori operant conditioning dan meneliti bagaimana perilaku dipengaruhi oleh konsekuensi (reinforcement/punishment).1
Inti teorinya (yang paling kepake di kelas)
Operant conditioning menjelaskan: perilaku yang diikuti penguatan (reinforcement) cenderung meningkat, sedangkan perilaku yang tidak diperkuat atau diikuti konsekuensi yang menurunkan kecenderungan respons akan berkurang. Ini berbeda dari Pavlov (asosiasi stimulus–refleks). Skinner fokus pada perilaku yang “dipilih” dan dibentuk melalui konsekuensi.1
Bagaimana Skinner membuktikannya? (Skinner box & shaping)
![]() |
| Source: Photo courtesy of YrVelouria, http://www.flickr.com/photos/yrvelouria/277353660/in/photostream. |
Skinner membangun alat penelitian yang dikenal sebagai operant conditioning chamber (“Skinner box”). Di situ, hewan (misalnya tikus/merpati) belajar melakukan respons tertentu (mis. menekan tuas atau mematuk) untuk mendapatkan penguat (makanan) atau menghindari sesuatu yang tidak menyenangkan. Dengan kondisi terkontrol, Skinner memetakan bagaimana jenis penguatan dan jadwal penguatan memengaruhi frekuensi perilaku.2
Ia juga menekankan shaping: membentuk perilaku kompleks lewat penguatan bertahap pada kemajuan kecil menuju target.3
![]() |
| By Raulelgreco - Own work, CC BY-SA 4.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=124122934 |
Contoh penerapan di kelas
- Tentukan perilaku target yang terlihat: “mulai kerja dalam 30 detik”, “angkat tangan sebelum bicara”, bukan “jadi anak baik”.
- Perkuat cepat dan spesifik: “Bagus, kamu langsung buka buku dan mulai.”
- Pakai shaping untuk anak yang tertinggal: target fokus 3 menit → 5 menit → 7 menit, tiap kenaikan diperkuat.
- Perkuat kebiasaan belajar (bukan cuma nilai): usaha, strategi, ketekunan, proses.
- Audit penguatan tak sengaja: perilaku mengganggu yang dibayar perhatian bisa makin sering.
Jebakan yang sering terjadi
- Penguatan tidak konsisten (hari ini ditegakkan, besok dibiarkan).
- Hanya menghukum tanpa mengajari perilaku pengganti (anak berhenti sebentar, tapi tidak punya cara benar).
- Penguatan terlalu besar/terlalu material sehingga fokus pindah ke hadiah, bukan kebiasaan.
- Target terlalu tinggi (anak gagal terus, akhirnya menyerah).
Nyambung ke teori lain: kenapa perilaku “bandel” bisa tahan lama?
Konsep Skinner tentang jadwal penguatan menjelaskan kenapa kebiasaan tertentu bisa sangat “tahan” meski jarang diperkuat. Perilaku mencari perhatian misalnya, bisa sulit hilang bila sesekali saja “berhasil” mendapatkan respons guru/teman—itu sudah cukup menjadi penguat.3
Kalau ingin perilaku belajar muncul lebih sering, perbaiki konsekuensinya: kuatkan yang benar, hentikan “hadiah” untuk yang salah.
Referensi
-
Encyclopaedia Britannica. (n.d.). B. F. Skinner (biografi; ringkasan operant conditioning).
https://www.britannica.com/biography/B-F-Skinner ↩ -
SimplyPsychology. (2024). Operant Conditioning (Skinner box; penguatan; konsep dasar).
https://www.simplypsychology.org/operant-conditioning.html ↩ -
Harvard Department of Psychology. (n.d.). B. F. Skinner (kontribusi: shaping, schedules of reinforcement).
https://psychology.fas.harvard.edu/people/b-f-skinner ↩


