OeiXK0lB2ryhFzOl0xPYwTuYcIOZo1f1dSrnSz50
Bookmark

Law of Effect Thorndike: Cara Konsekuensi Membentuk Kebiasaan Belajar

Law of Effect Thorndike: kenapa anak mengulang perilaku yang “berhasil”? Contoh penerapan di kelas SD, umpan balik cepat, pujian spesifik, dan konseku
Kenapa Anak Makin Rajin Kalau “Hasilnya Bagus”? Thorndike Menjelaskan lewat Law of Effect

Di SD, kamu sering melihat anak yang tadinya pasif mendadak rajin saat ia mulai “bisa” dan mengalami sukses. Sebaliknya, anak yang berulang kali gagal cenderung menghindar—bukan karena tidak mau belajar, tapi karena belajar terasa selalu berakhir buruk.

Edward Lee Thorndike membantu kita memahami pola ini: perilaku belajar menguat atau melemah tergantung konsekuensi yang mengikutinya.

Siapa Edward Lee Thorndike?

Edward Lee Thorndike

Edward Lee Thorndike (1874–1949) adalah psikolog yang berpengaruh dalam psikologi pendidikan. Ia mengembangkan teori belajar berbasis koneksi (connectionism) dan terkenal lewat Law of Effect—prinsip tentang bagaimana konsekuensi membentuk kebiasaan perilaku.1

Inti teori "Law of Effect"

Law of Effect menyatakan: respons yang diikuti hasil memuaskan cenderung diulang, sedangkan respons yang diikuti hasil tidak memuaskan cenderung berkurang.2

Di kelas, “hasil memuaskan” tidak harus hadiah. Bisa berupa rasa mampu, umpan balik yang jelas, pujian spesifik, atau tugas terasa lebih mudah karena strategi yang tepat.

Bagaimana Thorndike mendapatkan idenya? (Puzzle box)

sources: https://edkardas.com/

Thorndike meneliti pembelajaran trial-and-error pada hewan menggunakan puzzle box. Misalnya, kucing ditempatkan dalam kotak dan harus melakukan tindakan tertentu (menekan tuas/menarik tali) agar pintu terbuka dan mendapatkan makanan. Pada awalnya kucing mencoba berbagai tindakan acak, tetapi seiring percobaan berulang, waktu untuk “menemukan tindakan yang tepat” makin cepat. Ini menunjukkan perilaku yang “membuahkan hasil” menguat karena konsekuensi.3

sources: https://www.structural-learning.com/

Contoh penerapan di kelas

  • Perkuat strategi, bukan hanya hasil: “Bagus, kamu cek lagi langkahnya,” bukan sekadar “pintar!”
  • Bangun sukses awal untuk anak yang sering gagal: pecah tugas menjadi langkah kecil agar anak mengalami “berhasil” dengan cara benar.
  • Konsekuensi cepat & jelas: umpan balik segera membuat anak mengaitkan tindakan–hasil.
  • Periksa konsekuensi tak sengaja: perilaku mengganggu yang “dibayar” perhatian bisa makin sering muncul.

Jebakan yang sering terjadi

  • Konsekuensi terlalu jauh (nilai keluar lama; anak tidak mengaitkan tindakan-hasil).
  • Pujian terlalu umum (anak tidak tahu apa yang harus diulang).
  • Hanya menghukum salah tanpa mengajarkan perilaku/strategi pengganti yang benar.

Nyambung ke teori lain: jalan menuju Skinner

Law of Effect menjadi jembatan menuju behaviorisme modern. Prinsip “konsekuensi membentuk perilaku” kemudian dikembangkan lebih sistematis oleh B. F. Skinner melalui konsep reinforcement dan jadwal penguatan dalam operant conditioning.4

Anak mengulang apa yang terasa berhasil—tugas guru adalah membuat yang “berhasil” itu adalah strategi belajar yang benar.

Referensi

  1. Encyclopaedia Britannica. (n.d.). Edward L. Thorndike (biografi; kontribusi pada psikologi pendidikan).
    https://www.britannica.com/biography/Edward-L-Thorndike  
  2. Encyclopaedia Britannica. (n.d.). Thorndike’s law of effect (definisi dan ringkasan konsep).
    https://www.britannica.com/science/Thorndikes-law-of-effect  
  3. Thorndike, E. L. (1898). Animal intelligence: An experimental study of the associative processes in animals (karya klasik; puzzle box).
    https://ia804500.us.archive.org/6/items/animalintelligen00thoruoft/animalintelligen00thoruoft.pdf  
  4. Encyclopaedia Britannica. (n.d.). B. F. Skinner (operant conditioning sebagai pengembangan sistematis dari prinsip konsekuensi).
    https://www.britannica.com/biography/B-F-Skinner  

Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar
Silahkan berkomentar ...