Murid Hafal Tapi Gampang Lupa? John Locke: Paham Dibentuk oleh Pengalaman & Kebiasaan, Bukan Ceramah
Murid Hafal, Tapi Begitu Soal Berubah… Blank. Apa yang Salah?
Di kelas, ini kejadian klasik: anak bisa mengulang definisi dengan lancar, tapi ketika soalnya sedikit dimodifikasi—mereka mendadak kehilangan pegangan. Guru lalu menambah penjelasan, menambah latihan, menambah PR. Hasilnya? Ada yang makin paham, tapi banyak yang justru makin “jenuh” dan menganggap belajar itu cuma menghafal.
John Locke menawarkan cara pandang yang menenangkan sekaligus menantang: murid bukan “wadah” yang diisi kata-kata. Pengetahuan terbentuk lewat pengalaman, latihan, dan kebiasaan berpikir yang rapi. Kalau paham tidak nempel, mungkin bukan muridnya yang “kurang”, tapi pengalaman belajarnya belum cukup membentuk cara berpikirnya.
Locke menolak “ide bawaan” dan menekankan bahwa bahan pengetahuan berasal dari pengalaman—ia menggambarkan pikiran awal seperti “white paper, void of all characters”.[1]
Catatan: “kertas putih” adalah metafora Locke untuk menolak ide bawaan; bukan berarti anak benar-benar “tanpa bentuk” atau bisa jadi apa saja tanpa batas.[2]
Siapa John Locke?
![]() |
| John Locke |
John Locke (1632–1704) adalah filsuf Inggris yang menjadi fondasi empirisme modern: gagasan bahwa pengetahuan berkembang terutama dari pengalaman. Ia juga dikenal di bidang teori politik, toleransi beragama, dan pendidikan. Locke lahir di Wrington (Somerset) dan wafat di High Laver (Essex).[3]
“Paham itu dibangun, bukan diwariskan”
Dalam An Essay Concerning Human Understanding, Locke membantah bahwa manusia lahir membawa “ide bawaan” yang otomatis benar. Menurutnya, pikiran memperoleh ide dari dua sumber: pengalaman inderawi (apa yang kita lihat, dengar, rasakan) dan refleksi (mengolah pengalaman itu dengan berpikir).[4]
![]() |
| University of Sydney, Rare Books Library, Public Domain, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=2358772 |
Versi bahasa kelasnya:
- Kalau murid cuma dengar definisi, yang masuk seringnya hanya kata-kata.
- Kalau murid mengalami + memikirkan, yang terbentuk adalah konsep.
- Kalau murid berlatih berulang, yang terbentuk adalah kebiasaan berpikir dan kebiasaan belajar.
Dari mana Locke menyusun gagasan ini?
Locke menyusun gagasan “pengalaman sebagai sumber pengetahuan” lewat proyek filosofis besar di Essay: ia mengurai bagaimana “ide sederhana” datang dari pengalaman, lalu pikiran menggabungkannya menjadi “ide kompleks”. Tujuannya bukan sekadar teori, tapi agar manusia bisa menilai klaim dengan lebih hati-hati (tidak gampang termakan asumsi).[4]
![]() |
| Public Domain, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=1997824 |
Lalu dalam Some Thoughts Concerning Education (1693), Locke menerjemahkan cara pandang itu menjadi nasihat pendidikan yang sangat praktis: pembentukan kebiasaan, latihan pengendalian diri, dan disiplin yang tidak merusak karakter. Karyanya ini sangat berpengaruh dalam sejarah pemikiran pendidikan modern.[5]
Bagaimana kalau dibawa ke kelas (biar "nempel")?
1) Mulai dari pengalaman kecil, baru beri istilah
Jangan mulai dari definisi. Mulai dari contoh yang mereka alami, lalu tarik konsepnya.
- IPA: ajak mengamati (air menguap, bayangan, bunyi), baru masuk istilah.
- Matematika: manipulatif/benda nyata, baru simbol.
- Bahasa: minta murid menceritakan pengalaman, baru struktur teks.
2) Pakai “latihan berulang” yang bertahap (bukan numpuk tugas)
Locke menekankan pembentukan kebiasaan. Untuk guru, ini berarti: latihan sedikit tapi rutin, dengan level naik perlahan. Lebih baik 6 soal yang bertahap dan dituntaskan, daripada 20 soal yang membuat anak tenggelam.
3) Biasakan refleksi singkat: “Kenapa aku yakin jawaban ini?”
Refleksi adalah bagian penting selain pengalaman. Terapkan 60–90 detik di akhir pelajaran:
- “Hari ini aku paham karena…”
- “Yang masih bikin bingung…”
- “Besok kalau ketemu soal mirip, aku akan…”
4) Disiplin yang membangun daya, bukan takut
Locke bicara soal pembentukan karakter dan pengendalian diri. Di kelas modern, ini bisa diterjemahkan jadi: aturan jelas, konsekuensi konsisten, tapi tetap menjaga martabat murid. Tujuannya bukan “diam karena takut”, tapi “tertib karena paham alasan”.[5]
Kesalahan umum saat “menerapkan Locke”
- Mengira “kertas kosong” = anak bisa diisi apa saja. Ini salah kaprah. Locke menolak ide bawaan, tapi metafora tabula rasa sering dibesar-besarkan hingga seolah anak “tanpa bentuk sama sekali”. Kajian sejarah filsafat menunjukkan narasi tabula rasa populer itu banyak distorsi dan konteksnya rumit.[2]
- Menukar pengalaman dengan hiburan. Pengalaman belajar bukan sekadar “seru”, tapi harus terarah: ada pengamatan, pertanyaan, dan refleksi.
- Terlalu cepat memberi istilah. Istilah duluan membuat anak menghafal label, bukan memahami konsep.
- Disiplin jadi keras atau sebaliknya jadi permisif. Disiplin yang sehat adalah konsisten, adil, dan melatih pengendalian diri—bukan menakut-nakuti.
Faktanya Locke tidak memakai istilah “tabula rasa” secara harfiah
Locke terkenal dengan “tabula rasa”, tapi dalam teksnya ia memakai metafora “white paper” dan fokus utamanya adalah menolak ide bawaan. Bahkan ada kajian yang menunjukkan bahwa cerita “tabula rasa” yang populer sering menyederhanakan dan mengubah konteks historisnya.[2] Ini penting untuk guru: jangan ambil slogan—ambil cara berpikirnya.
Kalau mau belajar nempel, jangan kejar hafalan—bangun pengalaman yang terarah, lalu latih kebiasaan berpikirnya.
Catatan Kaki / Referensi
-
Encyclopaedia Britannica. “Tabula rasa.” (mengutip Locke tentang pikiran awal seperti “white paper, void of all characters,” dan menegaskan pengetahuan berasal dari pengalaman).
https://www.britannica.com/topic/tabula-rasa ↩ -
Duschinsky, R. (2012). “Tabula Rasa and Human Nature.” Philosophy, 87(4).
(membahas bagaimana narasi tabula rasa sering disalahpahami/distorisikan dalam sejarah pemikiran).
https://www.cambridge.org/core/journals/philosophy/article/abs/tabula-rasa-and-human-nature/897610B3326B0E836C3B3D23FC777F83 ↩ ↩ ↩ -
Encyclopaedia Britannica. “John Locke.” (biografi ringkas; tanggal lahir-wafat; kontribusi pada empirisme).
https://www.britannica.com/biography/John-Locke ↩ -
Locke, J. (1690). An Essay Concerning Human Understanding. (teks klasik tentang penolakan ide bawaan; pengalaman & refleksi sebagai sumber pengetahuan).
Versi publik domain: Project Gutenberg.
https://www.gutenberg.org/files/10615/10615-h/10615-h.htm ↩ ↩ -
Locke, J. (1693). Some Thoughts Concerning Education. (nasihat pendidikan: pembentukan kebiasaan, disiplin, pengembangan karakter).
Versi publik domain: Liberty Fund (OLL).
https://oll.libertyfund.org/titles/locke-the-works-vol-8-some-thoughts-concerning-education-posthumous-works-familiar-letters ↩ ↩


