OeiXK0lB2ryhFzOl0xPYwTuYcIOZo1f1dSrnSz50
Bookmark

John Dewey: Learning by Doing yang Membuat Anak Benar-Benar Paham

Kelas sudah aktif tapi anak tetap tidak paham? Pelajari Dewey: pengalaman + refleksi, contoh langkah praktis di SD/K-12, dan kesalahan umum “learning

 

Kelas Sudah Aktif Tapi Anak Tetap “Nggak Nempel”? Dewey Bilang: Kurang Refleksi

Guru sudah bikin kegiatan: eksperimen, diskusi kelompok, proyek kecil. Anak terlihat sibuk, kelas “hidup”. Tapi saat ditanya, “Jadi kamu paham apa?” jawabannya kosong atau cuma mengulang instruksi.

Di sinilah John Dewey mengingatkan: aktivitas saja belum tentu belajar. Yang membuat pengalaman menjadi pengetahuan adalah refleksi—proses menghubungkan “yang terjadi” dengan “maknanya”.

Siapa John Dewey?

John Dewey

John Dewey (1859–1952) adalah filsuf dan pendidik Amerika yang menjadi tokoh utama pendidikan progresif. Ia percaya sekolah harus menyiapkan anak hidup di masyarakat demokratis—bukan lewat hafalan, tetapi lewat pengalaman yang disusun cerdas dan dipikirkan kembali.1

Inti gagasan John Dewey

Bagi Dewey, belajar bukan “dipindahkan” dari kepala guru ke kepala murid. Belajar terjadi ketika anak mengalami sesuatu, lalu menguji maknanya: mengamati, membandingkan, menebak sebab-akibat, dan menarik pelajaran dari hasilnya. Proses inilah yang ia sebut sebagai reflective thinking (berpikir reflektif).2

Dalam Experience and Education, Dewey juga menegaskan bahwa pengalaman yang baik punya dua ciri: (1) berkesinambungan (membuat anak siap untuk pengalaman berikutnya), dan (2) terhubung dengan konteks (lingkungan, tujuan, dan kebutuhan anak).3

Dari mana Dewey mendapatkan ide ini?

Dewey tidak berhenti pada gagasan. Pada 1896, ia terlibat mendirikan sekolah eksperimen di University of Chicago yang dikenal sebagai Laboratory School untuk “menguji” cara belajar yang berpusat pada pengalaman anak dan kerja sosial di kelas.4

Arquivo Nacional, Public Domain, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=72671061

Lewat praktik sekolah inilah ia makin yakin bahwa “learning by doing” harus disertai struktur: pengalaman → pertanyaan → penyelidikan → kesimpulan → kebiasaan baru. Ia membahas pentingnya refleksi dan cara melatihnya dalam karya seperti How We Think dan membahas filosofi pendidikan lebih luas dalam Democracy and Education.25

Cara menerapkan di kelas

  • Mulai dari pengalaman yang “punya masalah”: bukan aktivitas hiasan. Contoh: “Kenapa bayangan berubah panjang?” “Kenapa tanaman di pojok kelas lebih kurus?”
  • Selipkan refleksi singkat di tengah (30–60 detik): “Apa yang kamu lihat?” “Apa yang kamu kira penyebabnya?” “Apa buktinya?”
  • Akhiri dengan ‘menempelkan makna’: 3 kalimat di buku/exit ticket: (1) Hari ini saya belajar…, (2) Buktinya…, (3) Lain kali saya akan…
  • Naikkan pengalaman jadi konsep: setelah praktik, bantu anak memberi nama konsepnya (mis. “penguapan”, “gaya gesek”), baru latihan variasi.

Kesalahan umum penerapan “learning by doing”

  • Aktivitas tanpa tujuan konsep: anak sibuk tapi tidak tahu “yang sedang dipelajari apa”.
  • Refleksi cuma formalitas: “Gimana perasaannya?” saja—tanpa mengikat ke bukti dan sebab-akibat.
  • Kebebasan tanpa struktur: kelas jadi ramai, tapi tidak ada pertanyaan kunci yang memandu.
  • Terlalu cepat pindah: belum sempat mengolah pengalaman, sudah ganti topik.

Fakta menarik yang nyambung (dan mengarah ke Vygotsky)

Dewey menekankan pengalaman dan refleksi, tapi ia juga menganggap belajar itu bersifat sosial—anak belajar lewat partisipasi dalam aktivitas bersama. Di titik ini, gagasan Dewey sering “bertemu” dengan Vygotsky yang menjelaskan secara lebih tajam bagaimana interaksi sosial mendorong perkembangan berpikir (ZPD).6

Aktif itu belum tentu belajar—pengalaman jadi pengetahuan saat anak diajak berpikir tentang maknanya.

Referensi

  1. Encyclopaedia Britannica. (n.d.). John Dewey.
    https://www.britannica.com/biography/John-Dewey  
  2. Dewey, J. (1910). How We Think. Project Gutenberg.
    https://www.gutenberg.org/files/37423/37423-h/37423-h.htm  
  3. Dewey, J. (1938). Experience and Education. (PDF).
    https://ia800400.us.archive.org/20/items/experienceeducat00dewe_0/experienceeducat00dewe_0.pdf  
  4. University of Chicago Laboratory Schools. (n.d.). Our History (pembukaan Dewey School/Lab Schools 1896).
    https://www.ucls.uchicago.edu/about-lab/history  
  5. Dewey, J. (1916). Democracy and Education. Project Gutenberg.
    https://www.gutenberg.org/files/852/852-h/852-h.htm  
  6. Encyclopaedia Britannica. (n.d.). University of Chicago Laboratory Schools (fungsi riset & demonstrasi metode pendidikan).
    https://www.britannica.com/topic/University-of-Chicago-Laboratory-Schools  

Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar
Silahkan berkomentar ...