Pesan Fröbel untuk Guru: Bermain Terarah yang Membentuk Logika dan Disiplin Anak
Anak Kecil Susah Duduk Diam? Fröbel Bilang: Bermain Itu Cara Anak Berpikir
Kelas awal yang sering bikin energi habis
Di kelas kecil (PAUD/kelas 1–2), kamu baru mulai menjelaskan… beberapa anak sudah gelisah. Ada yang pegang-pegang barang, ada yang ganggu teman, ada yang “lari” dari tugas. Kalau dipaksa diam terlalu lama, kelas makin ramai.
Friedrich Fröbel punya sudut pandang yang menenangkan: pada usia dini, bermain bukan gangguan belajar—justru itu jalur utama anak membangun logika, bahasa, dan kontrol diri.
Siapa Friedrich Fröbel?
![]() |
| Friedrich Fröbel (Froebel) |
Friedrich Fröbel (1782–1852) adalah pendidik Jerman yang dikenal sebagai pendiri konsep kindergarten dan salah satu reformis pendidikan paling berpengaruh di abad ke-19.1
Inti gagasannya: bermain yang “dirancang”
Fröbel percaya anak belajar paling kuat melalui aktivitas mandiri yang menyenangkan dan bermakna. Karena itu ia merancang bahan bermain yang disebut “gifts” dan aktivitas kreatif yang disebut “occupations”. Tujuannya bukan sekadar “main”, tapi membantu anak menangkap pola: bentuk, urutan, simetri, keteraturan—semua lewat tangan dan rasa ingin tahu.
![]() |
| By Kippelboy - Own work, CC BY-SA 3.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=17904502 |
Dari mana idenya muncul?
Fröbel tidak sekadar “mengidealkan bermain”. Ia membangun sistem pendidikan usia dini dan menulis karya penting The Education of Man (terjemahan dari Menschenerziehung, pertama kali terbit 1826) yang menekankan perkembangan anak melalui aktivitas yang sesuai tahap dan sifat anak.2
![]() |
| sources: invaluable.com |
Ia juga mengembangkan “gifts & occupations” sebagai perangkat yang konsisten dipakai di kindergarten untuk merangsang belajar lewat bermain—mulai dari bentuk sederhana hingga konstruksi yang lebih kompleks.3
Cara menerapkan di kelas (praktis untuk guru)
- Ubah “bermain” jadi latihan berpikir: balok → minta anak membuat pola ABAB, membuat bangun, lalu menjelaskan “kenapa ini sama/beda”.
- Main terarah = ada target kecil: “Hari ini kita latih: menyusun urutan, bekerja sama, menyebutkan bentuk.”
- Gunakan bahan sederhana ala gifts: balok kayu/karton, stik es krim, kertas lipat, tali, biji-bijian—yang penting urut dan konsisten.
- Tutup dengan refleksi singkat: “Kamu membuat apa? Bagian mana yang sulit? Kamu menyelesaikannya bagaimana?”
Kesalahan umum saat bilang “play-based”
- Berakhir jadi bebas tanpa arah: anak senang, tapi tidak ada kebiasaan berpikir yang dibangun.
- Guru terlalu cepat mengoreksi: mainnya jadi “tugas benar-salah”, anak kehilangan eksplorasi.
- Material terlalu banyak sekaligus: anak bingung, kelas justru makin chaos—mulai dari sedikit tapi rutin.
Fakta menarik yang nyambung dengan teori
Britannica menyebut Fröbel sebagai pendiri kindergarten dan menyinggung “gifts/occupations” yang dirancang untuk merangsang belajar melalui aktivitas bermain, sering disertai lagu dan kegiatan sosial.1 Jadi, “main yang serius” punya akar historis yang sangat kuat dalam pendidikan modern.
Untuk anak kecil, bermain yang terarah adalah bentuk belajar yang paling alami dan paling dalam.
Referensi
-
Encyclopaedia Britannica. (n.d.). Friedrich Fröbel.
https://www.britannica.com/biography/Friedrich-Froebel ↩ -
Fröbel, F. (1903). The Education of Man (W. N. Hailmann, Trans.). Internet Archive (PDF).
https://archive.org/download/educationofman00frbe/educationofman00frbe.pdf ↩ -
Froebel Trust. (n.d.). Froebel’s Occupations (penjelasan gifts & occupations).
https://www.froebel.org.uk/training-and-resources/froebels-occupations ↩


