Classical Conditioning Pavlov untuk Guru: Cue Kelas yang Membentuk Fokus
Kenapa Murid Langsung “Siap Belajar” Saat Guru Datang? Pavlov Menyebutnya Asosiasi
Kamu baru melangkah masuk kelas—anak yang tadi ramai tiba-tiba mengecilkan suara, merapikan buku, dan menatap ke depan. Kamu belum mengajar apa-apa, tapi suasana sudah berubah.
Banyak guru menganggap ini soal “wibawa”. Padahal sering kali ini adalah hasil dari sesuatu yang lebih sederhana: rutinitas yang berulang membentuk respons otomatis. Ivan Pavlov membantu kita menjelaskan fenomena ini secara ilmiah.
Siapa Ivan Pavlov?
![]() |
| Ivan Pavlov |
Ivan Pavlov (1849–1936) adalah fisiolog Rusia yang terkenal karena riset pencernaan dan kemudian mengembangkan konsep conditioned reflex (refleks terkondisi). Ia memenangkan Nobel (1904) untuk penelitian fisiologi pencernaan—bukan untuk teori belajar—namun temuan tentang asosiasi justru menjadi dasar penting psikologi pembelajaran modern.1
Inti gagasan Pavlov
Classical conditioning menjelaskan bagaimana respons otomatis dapat terbentuk melalui asosiasi. Awalnya, respons tertentu muncul secara alami (misalnya air liur saat makanan). Namun, jika suatu tanda netral (misalnya bunyi) berulang kali muncul tepat sebelum makanan, maka tanda netral itu bisa “mewarisi” kemampuan memicu respons tersebut. Setelah belajar terbentuk, bunyi saja dapat memicu respons.2
Bagaimana Pavlov membuktikannya lewat uji coba anjing?
Pavlov meneliti anjing dengan metode fisiologi yang sangat terukur. Ia mengamati bahwa anjing bisa mengeluarkan air liur bukan hanya saat makanan datang, tetapi juga saat muncul tanda-tanda yang konsisten mendahului makanan.
![]() |
| By Maxxl² - Own work - vectorizedPavlov dogs conditioning, CC BY-SA 4.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=32037734 |
Skema eksperimennya (ringkas):
- UCS → UCR: makanan (Unconditioned Stimulus) → air liur (Unconditioned Response), respons alami.
- NS: bunyi (sering dijelaskan sebagai metronom/buzzer dalam ringkasan ilmiah) awalnya netral.
- Pairing berulang: NS dibunyikan lalu segera diikuti makanan, diulang berkali-kali.
- Hasil: NS berubah menjadi CS (Conditioned Stimulus); CS saja memicu CR (Conditioned Response).2
Pavlov merangkum konsep ini secara luas dalam karya klasik Conditioned Reflexes (1927).3
Contoh penerapan di Kelas
Di kelas SD/K–12, “air liur” bisa diganti dengan respons belajar seperti diam, siap alat, fokus, atau transisi rapi. Prinsipnya sama: cue (tanda) + rutinitas yang konsisten.
- Pilih 1 cue sederhana: ketukan 2x, angkat buku, bunyi bel pendek, atau kalimat pembuka yang sama.
- Pasangkan cue dengan rutinitas jelas: cue → semua menatap → instruksi 1 kalimat → mulai tugas.
- Ulangi konsisten sampai cue “bermakna”.
Jebakan yang sering bikin 'cue' gagal
- Cue berubah-ubah (anak tidak sempat membangun asosiasi).
- Cue terlalu panjang/ramai (mengganggu fokus).
- Cue dipakai saat guru belum siap (anak sudah diam tapi menunggu lama; asosiasi melemah).
- Cue identik dengan ancaman (yang terbentuk bisa takut, bukan siap belajar).
Nyambung ke teori lain: Kenapa rutinitas bisa “pudar”?
Pavlov juga menunjukkan bahwa respons terpelajar bisa melemah bila cue sering muncul tanpa rutinitas yang menyusul (fenomena extinction). Itu menjelaskan kenapa rutinitas yang dulu “ampuh” bisa pudar kalau tidak konsisten lagi.2
Kalau kamu ingin kelas lebih siap, rapikan cue dan rutinitasnya—asosiasi yang konsisten mengalahkan ceramah panjang.
Referensi
-
Encyclopaedia Britannica. (n.d.). Ivan Pavlov (biografi; Nobel 1904; ringkasan eksperimen).
https://www.britannica.com/biography/Ivan-Pavlov ↩ -
Pressbooks (UCF). (n.d.). Classical Conditioning (UCS/UCR/CS/CR; extinction; konsep dasar).
https://pressbooks.online.ucf.edu/lumenpsychology/chapter/classical-conditioning/ ↩ -
Pavlov, I. P. (1927). Conditioned Reflexes (G. V. Anrep, Trans.). PsychClassics, York University.
https://psychclassics.yorku.ca/Pavlov/ ↩


