Pesan Montessori untuk Guru: Disiplin Tumbuh dari Lingkungan yang Disiapkan
Kelas Bisa Tenang Tanpa Teriak? Montessori Bilang: Kuncinya Ada di Lingkungan
Kamu sudah menegur berkali-kali: “Duduk yang rapi!” “Jangan ganggu!” “Fokus!” Tapi beberapa menit kemudian, ulang lagi. Rasanya seperti mengatur lalu lintas tanpa lampu merah.
Montessori memberi perspektif beda: banyak perilaku kacau muncul bukan karena anak ingin kacau, tapi karena lingkungannya tidak mendukung kebutuhan perkembangan. Solusinya bukan menambah teriakan—tapi mendesain kelas agar anak bisa bekerja mandiri.
Siapa Maria Montessori?
![]() |
| Maria Montessori |
Maria Montessori (1870–1952) adalah dokter dan pendidik Italia yang mengembangkan pendekatan pendidikan berbasis observasi ilmiah terhadap anak. Ia membuka Casa dei Bambini pertama pada 1907 di Roma, yang menjadi prototipe lingkungan Montessori.12
Inti teorinya: kebebasan + batas + lingkungan yang “siap”
Montessori dikenal dengan ide prepared environment: ruang, alat, dan rutinitas disusun agar anak bisa memilih kerja yang bermakna, bekerja fokus, lalu merapikan kembali. Ketika lingkungan tepat, yang muncul adalah proses yang Montessori sebut normalization—anak menjadi lebih tenang, fokus, dan mampu mengatur diri lewat kerja yang sesuai tahap.3
Bagaimana Montessori membangun metodenya?
Montessori merumuskan metodenya lewat observasi langsung pada anak, terutama di Casa dei Bambini. Prinsip dan perangkat praktiknya dijelaskan dalam karya klasik The Montessori Method (1912), yang memperkenalkan pendekatan “scientific pedagogy” di lingkungan Children’s House.4
![]() |
| Public Domain, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=38709850 |
Cara menerapkan di kelas (tanpa harus jadi sekolah Montessori)
- Rapikan ruang untuk mendukung mandiri: alat tulis jelas tempatnya, label sederhana, akses anak mudah.
- Siapkan “kerja” yang bisa dilakukan sendiri: tugas pendek, langkah jelas, alat lengkap (anak tidak bolak-balik bingung).
- Aturan sedikit tapi konsisten: “ambil–pakai–kembalikan”, “satu alat satu anak”, “bicara pelan saat orang lain bekerja”.
- Kurangi bantuan yang tidak perlu: bantu seperlunya, lalu mundur. Tujuannya anak merasa: “aku bisa.”
- Latih practical life: merapikan meja, menyusun buku, menuang air, membersihkan tumpahan—ini fondasi fokus.
Kesalahan umum saat meniru Montessori
- Disangka “bebas sebebas-bebasnya”: padahal kebebasan Montessori selalu di dalam batas dan struktur.
- Lingkungan tidak siap, tapi menuntut mandiri: anak diminta mandiri tanpa alat dan rutinitas yang mendukung.
- Guru keburu membantu: anak tidak sempat membangun kontrol diri dan rasa mampu.
Fakta menarik yang relevan
Dalam pembahasan tentang normalization, ada kutipan Montessori yang sering diulang: tanda sukses guru adalah ketika ia bisa berkata, “anak-anak bekerja seolah-olah aku tidak ada”—ini menekankan bahwa tujuan akhirnya adalah kemandirian yang tenang, bukan ketergantungan pada kontrol guru.3
Kalau lingkungan siap, disiplin tidak perlu dipaksa—ia tumbuh dari kerja yang bermakna.
Referensi
-
Encyclopaedia Britannica. (n.d.). Children’s House (Casa dei Bambini; pertama 1907 di Roma).
https://www.britannica.com/topic/Childrens-House ↩ -
American Montessori Society. (n.d.). About Dr. Maria Montessori (Casa dei Bambini, 1907).
https://amshq.org/about-us/history-of-ams/about-dr-maria-montessori/ ↩ -
Montessori Services. (n.d.). Normalization in the Montessori Classroom.
https://www.montessoriservices.com/ideas-insights/normalization-in-the-montessori-classroom ↩ -
Montessori, M. (1912). The Montessori Method. Project Gutenberg.
https://www.gutenberg.org/ebooks/39863 ↩

